MALANG — Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang, diisi dengan amanat kebangsaan dari KH Marzuqi Mustamar yang menekankan pentingnya menjaga kedaulatan negara, persatuan bangsa, dan akhlak santri. Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa negara yang berdaulat, stabil, dan memiliki penegakan hukum yang adil merupakan dasar bagi kehidupan berbangsa yang aman dan produktif.
Menurut KH Marzuqi, stabilitas negara bukan sekadar urusan politik, melainkan juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan pendidikan, ekonomi, ibadah, dan perlindungan warga. Ia menyinggung sejumlah negara di Timur Tengah sebagai contoh bagaimana konflik dan lemahnya kedaulatan dapat menimbulkan penderitaan panjang bagi masyarakat sipil.
Ia menyoroti kondisi Palestina dan Yaman sebagai gambaran bahwa ketika negara tidak cukup kuat menjaga keamanan dan hukum, rakyatlah yang paling banyak menanggung akibat. Dari situ, ia mengajak para santri untuk memahami bahwa menjaga negara berarti juga menjaga masa depan masyarakat luas.
Dalam bagian lain amanatnya, KH Marzuqi memberi peringatan kepada para santri agar tidak ikut dalam gerakan atau kajian yang berpotensi melemahkan negara, memprovokasi, atau menyerang institusi kebangsaan. Ia menekankan bahwa kritik tetap boleh disampaikan, tetapi harus dalam bentuk yang membangun, berbasis analisis, dan disertai solusi.
“Kalau ada yang salah, silakan dikritik dengan baik. Tunjukkan letak kelemahannya, dampaknya, lalu beri masukan,” demikian intinya.
Ia juga mengingatkan bahaya perang saudara, dengan mencontohkan Suriah sebagai negara yang hancur setelah konflik politik dan sosial meluas. Menurutnya, ketegangan yang dibiarkan tanpa kendali bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan yang sangat mahal. Ia menilai hidup di negara yang mungkin belum makmur, tetapi tetap berdaulat dan aman, jauh lebih baik dibanding negeri yang kaya namun terpecah.
Dalam konteks nasional, KH Marzuqi menyebut Indonesia sedang menghadapi berbagai ujian, mulai dari bencana alam di sejumlah daerah seperti NTT, Aceh, dan beberapa wilayah Sumatera, hingga tantangan moral dan sosial di dalam negeri. Ia mengajak santri untuk tetap menjaga akhlak, ideologi kebangsaan, serta marwah organisasi keagamaan agar peran ulama dan pesantren tetap dihormati masyarakat.
Ia menegaskan bahwa bila persatuan bangsa runtuh, maka yang paling dirugikan adalah rakyat kecil, termasuk umat Islam sendiri. Karena itu, ia menyerukan agar seluruh elemen santri tetap menjaga NKRI sebagai harga mati.
Selain soal kebangsaan, KH Marzuqi juga memberikan pesan kuat tentang masa depan pendidikan santri. Ia mendorong para pelajar untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menguasai sains dan teknologi, serta menargetkan pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri. Ia menyebut keberhasilan sejumlah alumni yang diterima di Al-Azhar sebagai bukti bahwa santri mampu bersaing secara global.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kecerdasan akademik harus berjalan bersama akhlak, keimanan, dan identitas kesantrian. Menurutnya, santri ideal adalah generasi yang unggul dalam ilmu, kuat dalam moral, dan tetap berpihak pada Ahlussunnah wal Jamaah serta NKRI.
Di akhir amanat, para santri menyambut seruan itu dengan jawaban “Siap” secara serempak. Pesan penutupnya sederhana namun tegas: belajar harus sungguh-sungguh, menjaga negara adalah kewajiban, dan masa depan bangsa ada di tangan generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa kebangsaan.
Penulis : Tim Ngaosabah
