AIS Nusantara Dekonstruksi Bullying, Bangun Budaya Anti-Kekerasan di Pesantren
oleh Admin AISNU
Jakarta, 30 Mei 2024 - Kekerasan dalam bentuk bullying kerap terjadi di lingkungan pesantren tanpa disadari. Untuk mencegah hal ini, Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara mengambil langkah penting dengan menggelar webinar bertajuk "Bullying Makin Genting: Memahami Bentuk Bullying dan Dampaknya" pada Senin (27/5) lalu.
Webinar yang diikuti oleh berbagai stakeholder Pondok Pesantren merupakan upaya AIS Nusantara untuk mendekonstruksi pemahaman masyarakat tentang bullying dan membangun budaya anti-kekerasan di pesantren. Dengan memahami bullying lebih mendalam, diharapkan kasus kekerasan seperti ini dapat diantisipasi dan dicegah.
Dalam sambutannya, Ulinnuha Lazulfa selaku koordinator nasional AIS Nusantara menegaskan komitmen AIS Nusantara untuk mencegah bullying di lingkungan pesantren. “Webinar ini merupakan langkah awal kita yang sebelumnya hanya membuat konten-konten edukasi, dan kini kami menggelar webinar. Selanjutnya kami akan imengadakan penyuluhan langsung di pesantren,” ungkapnya. Koordinator nasional berharap peserta webinar dapat menjadi agen of change yang menyebarluaskan upaya pencegahan bullying di lingkungan pesantren.
Bianglala Andriadewi, M.Psi, psikolog klinis yang menjadi pembicara memaparkan bahwa seringkali bullying dilakukan dengan dalih bercanda dan mempererat keakraban, namun persepsi tersebut bisa sangat berbeda bagi penerima. Ia menjelaskan “Bullying yang tidak kelihatan yaitu pengabaian atau menjauhi seseorang, jadi bullying itu tidak hanya fisik, tidak hanya ejekan, dikucilkanpun juga termasuk bullying, penyebaran rumor juga termasuk bullying.”
Sementara itu, Ning dr. Ita Fajria Tamim, M.Kes yang merupakan dokter sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nazhatut Thullab membagikan pengalaman traumatisnya sebagai korban bullying di masa lalu. “saya pernah mengalami bullying ketika kuliah karena menjadi minoritas, itu membekasnya hingga bertahun-tahun kemudian dan hal tersebut mengganggu karir profesional saya” beliau menceritakan dampaknya dari trauma, anxiety, kehilangan percaya diri, depresi, merasa tidak berharga, kebencian hingga dendam.
Berdasarkan kasus bullying yang terjadi di pesantrennya, beliau menyimpulkan bahwa akar segala masalah dari tindakan bullying itu 90% berasal dari keluarga “keluarga yang harmonis yang orang tuanya saling menghargai, menghargai anaknya, ayah ibunya terlibat dalam pengasuhan anak itu akan menghasilkan anak-anak yang jauh menjadi pelaku bullying dibandingkan dengan keluarga yang sebaliknya”
Hal tersebut diperkuat dengan penjelasan dari pengasuh Pondok Pesantren Asshidqiyah, KH. Ahmad Mahrus Iskandar. “Kasus anak-anak saat ini tidak terlewat dari 3 hal, pertama adalah masalah keluarga, ketika mereka memiliki masalah keluarga dan dibawa ke Pesantren akhirnya mereka mencari pelampiasan. Selain itu adalah masalah ekonomi, terkait uang jajan dan perbedaan status sosial antar santri yang akhirnya memicu anak-anak membuat ulah dan ketiga adalah masalah pertemanan,” jelasnya merunut akar permasalahan bullying di pesantren.
Beliau juga mengingatkan bahwa perlunya meningkatkan pengetahuan untuk para guru pesantren dengan mengundang psikolog agar dapat meningkatkan kepedulian saat berhadapan dengan perilaku santri, serta memahami pendekatan yang tepat kepada para santri.
Sebagai tindak lanjut, AIS Nusantara berencana memberikan pelatihan dan penyuluhan anti-bullying kepada pengasuh dan santri pesantren secara berkala. Mereka juga akan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk menyusun panduan dan kebijakan anti-bullying di pesantren.
Pengirim: Oktavian Putri NH
Editor: Rau