AISNU Bogor dan PP. Alwa Al Basith Dorong Literasi Digital Santri melalui Pelatihan Jurnalistik
oleh Aisnu Bogor
Bogor - Upaya penguatan literasi digital di lingkungan madrasah dan pesantren terus digalakkan. Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Bogor berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Alwa Al Basith menggelar kegiatan Madrasah Digital: Pelatihan Jurnalistik bertajuk “Dari Pena ke Platform Digital”, Rabu (17/12/2025), di Aula PP. Alwa Al Basith, Babakan Madang, Bogor.
Kegiatan ini bertujuan membekali santri dan pendidik dengan kemampuan dasar jurnalistik, pemahaman etika media, serta keterampilan adaptif dalam memanfaatkan platform digital sebagai sarana dakwah dan penyebaran informasi yang konstruktif.
Acara tersebut dihadiri Koordinator AISNU Bogor Abdul Azis Al Gifari, Wakil Koordinator Daerah AISNU Bogor Imam Nawawi, Sekretaris AISNU Bogor M. Zuhdi Dafa, Pimpinan PP. Alwa Al Basith KH. Pariduddin, Kepala MA Alwa Ust. Syahrul Mubarok, Kepala MTs Alwa Ust. Umamul Yaqin, para asatidz, serta santri PP. Alwa Al Basith. Pelatihan menghadirkan Gustiawan Arqi Nugoroho (Dalwa) sebagai narasumber jurnalistik.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara AISNU Bogor dan PP. Alwa Al Basith sebagai bentuk komitmen kolaborasi pengembangan literasi dan pendidikan pesantren.
Imam Nawawi, selaku panitia, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan respon atas tantangan era digital.
“Santri hari ini tidak cukup hanya bisa membaca dan menulis, tetapi juga harus mampu memproduksi konten yang bermutu dan bertanggung jawab di ruang digital,” ujarnya.
Sementara itu, Abdul Azis Al Gifari menegaskan pentingnya pesantren mengambil peran strategis dalam narasi publik.
“Pesantren harus hadir di ruang digital dengan nilai keislaman dan kebangsaan. Jurnalistik menjadi instrumen penting untuk membangun narasi yang menyejukkan,” katanya.
Pimpinan PP. Alwa Al Basith, KH. Pariduddin, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari transformasi pesantren.
“Melalui literasi dan jurnalistik, santri dapat berdakwah secara lebih luas tanpa meninggalkan adab dan nilai keilmuan,” tuturnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya santri-santri yang literat, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan media digital di Indonesia.