Di bawah langit Timur Tengah yang kelabu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar berkilau dengan ambisi modernitas. Kota-kota futuristik seperti NEOM, gedung pencakar langit Dubai, dan sorak kemegahan Piala Dunia Qatar 2022 menjadi simbol kemajuan. Namun, di tengah gemerlap itu, Palestina meratap, tanahnya direnggut, rakyatnya terluka, dan harapannya terkubur di bawah reruntuhan Gaza.
Negara-negara Teluk melangkah penuh percaya diri menuju panggung global. Arab Saudi, melalui Visi 2030, merangkai NEOM sebagai kota masa depan, seolah ingin menyaingi Silicon Valley. Dubai, dengan Burj Khalifa dan pusat keuangan globalnya, menantang dominasi Wall Street. Qatar, dengan Al Jazeera dan investasi budaya seperti Museum of the Islamic World, berambisi menjadi penutur cerita dunia, menyaingi BBC dan CNN. Investasi triliunan dolar dalam teknologi, pariwisata, dan energi hijau mencerminkan tekad mereka untuk lepas dari ketergantungan minyak.
Sementara Palestina tetap menjadi lukisan kelam abad ke-21. Hingga Juli 2025, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 43.000 jiwa, dengan 60% di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, menurut laporan PBB. Infrastruktur Gaza hancur, dengan 1,2 juta orang di ambang kelaparan.
Pidato Trump: Suara Kemunafikan
Dalam pidatonya di Riyadh pada Mei 2025, Trump memuji negara-negara Teluk sebagai “pelopor Timur Tengah yang damai dan sejahtera,” menjanjikan kemitraan ekonomi senilai triliunan dolar dan menegaskan peran AS sebagai pelindung keamanan. Ia mendorong perluasan Abraham Accords, bahkan mengajak Suriah untuk bergabung, sambil mengecam Iran sebagai ancaman utama. Namun, dalam narasi gemilang ini, Palestina nyaris tak disebut, kecuali dalam janji samar Trump untuk “mengakhiri konflik di Gaza” dengan syarat yang menguntungkan Israel.
Pidato ini mencerminkan realitas pahit: kepentingan strategis AS dan Teluk mengesampingkan penderitaan Palestina. Bantuan militer AS ke Israel, yang mencapai 95 miliar dolar hingga 2024, terus mengalir, memungkinkan kehancuran Gaza berlanjut tanpa hambatan.
Harapan di Tengah Kontradiksi
Di tengah kontradiksi ini, secercah harapan muncul, meski rapuh. Tekanan global terhadap Israel meningkat, dengan ICJ, Afrika Selatan, dan negara-negara seperti Norwegia serta Spanyol mendukung pengakuan negara Palestina. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, terus mendorong solusi dua negara dan menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui UNRWA, meski terhambat oleh keterbatasan logistik dan politik.
Namun, tanpa tindakan tegas dari negara-negara Teluk seperti membuka perbatasan Rafah, menangguhkan normalisasi dengan Israel, atau menggunakan pengaruh ekonomi mereka untuk menekan AS, Palestina tetap terisolasi.
Teluk, bagai penari yang bermimpi menjadi bintang, lupa bahwa cahaya mereka redup tanpa solidaritas dengan Palestina. Sementara itu, Palestina, seperti burung dengan sayap patah, terus bernyanyi tentang kemerdekaan, meski dunia sering kali tuli.
Khairi Fuady