Pentingnya Memahami Al-Qur'an dengan Tafsir

oleh Admin AISNU

Pentingnya Memahami Al-Qur'an dengan Tafsir
Penulis
Admin AISNU
Tanggal Publikasi
04 January 2023
Waktu Membaca
2 min
Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Pacitan, Gus Hammam Fathullah HB mengatakan pentingnya mempelajari Al-Qur'an dengan menggunakan pendekatan tafsir. Karena, jika hanya mempelajari dengan terjemah itu sulit.
“Contoh yang sering dipakai oleh mereka, arrijalu qowwamuna 'alannisa, Laki-laki itu pemimpin bagi perempuan. Padahal arti qowwamuna itu bukan memimpin. Qooma itu artinya meluruskan/mengarahkan. Jadi tidak mutlak diartikan memimpin,” katanya.
Hal itu disampaikan Gus Hammam saat acara Diseminasi Gender Equality dan Partisipasi Politik Perempuan dalam Perspektif Islam dirangkaikan dengan Hari Ibu dan Penyampaian Hasil Kejuaraan Lomba Inovasi Sahabat Fatayat Pacitan di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pacitan, Jalan Letjen S Parman Nomor 35 Pacitan, Jum’at (30/12/2022).
Dirinya mengatakan, dalam tafsir yang lain arrijalu qowwamuna 'alannisa itu hanya sebatas wilayah suami istri saja. Jadi, ayat ini tidak bisa disalahgunakan untuk meraih kepentingan tertentu.
“Tidak bisa ayat ini digunakan untuk kepentingan mereka melarang perempuan missal jadi presiden atau yang lain. Karena, ya kita harus tau tafsir,” jelas penata musik Mars Ayo Mondok itu.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah Kikil, Arjosari, Pacitan itu menyampaikan, tafsir itu berbeda dengan terjemah. Menurutnya, terjemah itu hanya sekedar mentranslate dari satu bahasa menjadi bahasa yang lain. Hal itu, jika diterapkan dalam budaya yang lain juga akan berbeda.
“Ceblok-nya (jatuh, jawa; red) orang Pacitan dengan ‘Ceblok’-nya orang Solo itu berbeda. Ada bahasa ‘gigol’, kemudian turun ada yang membahasakan ‘nganjok’. Nah itu berbeda-beda, maka kita tidak bisa disamakan. Maka Kita harus memakai pendekatan tafsir,” imbuhnya.
Ia menyampaikan, rata-rata orang yang kontra dengan agama itu adalah orang yang selalu menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist. Padahal untuk memahami Al-Qur’an dan Hadist tersebut sangat membutuhkan tafsir.
“Kita kalau hanya mengandalkan Al-Qur’an dan Hadist saja tidak bisa. Kita butuh para sahabat, tabi’ tabi'in, para ulama dan kyai. Jangankan hanya itu, kita juga butuh tafsir yang didalamnya ada ilmu qiraat, asbabun nuzul, dan lain sebagainya. Hal itu kita butuhkan untuk memahami Al-Qur'an  yang begitu luas,” ujarnya.
🔗 Bagikan Artikel Ini