JOMBANG — Di tengah rangkaian Muktamar NU ke-35, Ais Nusantara memilih hadir bukan sekadar untuk memeriahkan momentum. Organisasi ini membawa misi yang lebih jauh: menanam pengetahuan dan membangun kesadaran melalui gerakan literasi.
Pada Sabtu sore, 29 Agustus 2026, halaman SMK Kreatif Hasbullah, Jombang, Jawa Timur, menjadi ruang belajar bagi para kader. Sejumlah materi literasi disampaikan secara beruntun, mulai dari literasi keuangan, literasi hukum, hingga literasi digital.
Rangkaian tersebut memperlihatkan satu pesan penting: santri tidak cukup hanya kuat secara spiritual. Mereka juga perlu memiliki kecakapan mengelola keuangan, memahami hukum, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu menjadi subjek perubahan, bukan sekadar menjadi penonton.
Keuangan Bukan Tabu, Melainkan Amanah
Salah satu sesi utama adalah literasi keuangan yang menghadirkan Muhammad S. Habiby, Senior Vice President (SVP) Environmental, Social, and Governance (ESG) PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Di hadapan ratusan kader, Habiby menyampaikan materi dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, uang bukanlah tujuan akhir, melainkan alat yang harus dikelola secara bertanggung jawab dan berlandaskan nilai kemaslahatan.
“Kalau santri paham keuangan syariah, paham ESG, paham bagaimana uang bekerja untuk kemaslahatan, maka pesantren tidak akan jadi objek. Pesantren akan jadi subjek pembangunan,” ujar Habiby.
Ia menekankan pentingnya tiga kebiasaan sederhana: mencatat, merencanakan, dan menginvestasikan sumber daya untuk kebaikan. Literasi keuangan, dalam pandangannya, bukan sekadar kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga umat agar tidak terjebak pada utang yang tidak sehat, praktik riba, maupun ketergantungan ekonomi.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi kalangan santri dan pesantren. Dengan pemahaman keuangan yang baik, potensi ekonomi pesantren dan masyarakat dapat dikelola secara lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Literasi Hukum dan Digital sebagai Bekal Zaman
Selain keuangan, Ais Nusantara juga membawa literasi hukum dan digital dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dua bidang ini menjadi penting karena kehidupan santri dan pesantren kini semakin beririsan dengan ruang publik, teknologi, serta berbagai regulasi.
Pemahaman hukum diperlukan agar kader dan masyarakat pesantren mampu mengenali hak, kewajiban, serta aturan yang berkaitan dengan aktivitas pendidikan dan kehidupan sosial. Sementara literasi digital dibutuhkan agar teknologi tidak hanya menjadi sarana konsumsi informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, berdakwah, dan membangun kemandirian ekonomi.
Dengan demikian, literasi diposisikan bukan sebagai pengetahuan tambahan, melainkan sebagai keterampilan hidup yang perlu dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan masing-masing.
Optimisme sebagai Energi untuk Bergerak
Kegiatan di Jombang bukanlah agenda yang berdiri sendiri. Ais Nusantara telah menjalankan rangkaian kegiatan literasi di berbagai daerah. Di balik gerakan tersebut, Kornas Ais Nusantara, Ulinuha Lazulfa, terus mendorong kader untuk menjaga semangat dan optimisme.
Dalam berbagai kesempatan, Ulinuha menekankan bahwa perubahan membutuhkan proses dan konsistensi. “Kita tidak boleh lelah. Apa yang kita lakukan hari ini adalah hasil dari apa yang selama ini kita upayakan. Tren positif ini harus dijaga, harus diteruskan,” katanya.
Bagi Ulinuha, Jombang bukanlah titik akhir. Tantangan sesungguhnya justru berada di akar rumput: pesantren-pesantren, majelis taklim, komunitas, dan ruang-ruang perjumpaan masyarakat. Di sanalah pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebiasaan dan tindakan.
“Kalau kader Ais bisa membawa semangat ini pulang ke daerah masing-masing, maka perubahan itu nyata. Bukan di atas panggung, tapi di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dari Kelas Literasi Menuju Gerakan Nyata
Rangkaian kegiatan di SMK Kreatif Hasbullah menunjukkan bahwa momentum Muktamar NU ke-35 dapat menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas kader. Literasi tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan agar melahirkan perubahan di lingkungan masing-masing.
Ada setidaknya tiga pesan yang dapat dibawa pulang oleh para peserta.
Pertama, jangan menunggu perubahan dari orang lain. Literasi keuangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran serta menyusun rencana keuangan.
Kedua, ilmu harus diterjemahkan menjadi amal. Pengetahuan mengenai hukum, keuangan syariah, maupun teknologi akan bernilai ketika diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Ketiga, optimisme harus berjalan bersama kerja. Semangat saja tidak cukup. Dibutuhkan kader yang mau turun ke lapangan, menjelaskan, mendampingi, dan memastikan pengetahuan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Membangun Santri sebagai Subjek Perubahan
Gerakan literasi Ais Nusantara pada akhirnya membawa gagasan yang lebih besar: membangun generasi santri yang tetap kokoh pada akar tradisi, tetapi terbuka terhadap pengetahuan dan perubahan.
Kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada warisan keilmuan dan spiritualitasnya. Kekuatan itu juga dapat tumbuh melalui kemampuan mengelola sumber daya, memahami aturan, memanfaatkan teknologi, serta membaca peluang di tengah perubahan sosial dan ekonomi.
Karena itu, literasi menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemandirian. Santri didorong bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku yang mampu mengambil peran di dalamnya.
Penutup: Benih yang Harus Disiram
Sore di SMK Kreatif Hasbullah, Jombang, mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, gagasan yang dibawa Ais Nusantara memiliki ruang untuk tumbuh jauh lebih panjang.
Dari literasi keuangan, santri belajar mengelola amanah. Dari literasi hukum, mereka belajar memahami aturan dan melindungi kepentingan masyarakat. Dari literasi digital, mereka belajar menghadapi perubahan teknologi dengan lebih cerdas dan produktif.
Semua itu bermula dari satu langkah sederhana: kemauan untuk belajar.
Ais Nusantara telah menanam benih. Tugas berikutnya berada di tangan para kader dan santri untuk menyiram, merawat, dan membawanya tumbuh di daerah masing-masing. Sebab perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia bisa lahir dari satu kelas, satu pesantren, satu desa, dan satu orang yang memutuskan untuk tidak lagi tertinggal.
Di tengah deru Muktamar NU ke-35, Ais Nusantara memilih menanam. Dan jika benih itu terus dirawat, literasi bukan hanya akan menjadi kegiatan sesaat, melainkan gerakan yang melahirkan santri yang berilmu, mandiri, adaptif, dan siap menjadi subjek pembangunan.
Literasi Keuangan, Hukum, dan Digital Menjadi Bekal Santri Menghadapi Perubahan Zaman
oleh Geofani Eko Priyantama