PEMBINGKAIAN TRANS MEDIA (TRANS7) TERHADAP POTRET BUDAYA SANTRI DI PESANTREN DALAM SEGMEN XPOSE UNSERCORED

oleh Admin AISNU

PEMBINGKAIAN TRANS MEDIA (TRANS7) TERHADAP POTRET BUDAYA SANTRI DI PESANTREN DALAM SEGMEN XPOSE UNSERCORED
Penulis
Admin AISNU
Tanggal Publikasi
16 October 2025
Waktu Membaca
3 min

Tak hanya para alumni santri Lirboyo (HIMASAL) saja yang merasakan kekecewaan mendalam atas dampak dari segmen program Xpose Unsercored-nya stasiun televisi ternama TRANS7, yang pada prosesnya penyiaran tayangan melalui stasiun televisi mendapat sorotan media secara berlebihan, yang kemudian diperburuk oleh viralitas di media sosial dan dianggap sebagai gambaran keseluruhan sistem di Pondok Pesantren. Stigma inilah yang akhirnya mencakup anggapan bahwa pesantren tidak layak sebagai tempat pendidikan santri (baca: perbudakan), sehingga menimbulkan kecemasan di masyarakat dan publik. Fenomena viral di media sosial telah membuat cuplikan video penyiaran tayangan dari segmen program TRANS7 dengan narasi jahat yang terjadi di lingkup pesantren tertentu, mudah menyebar luas dan tanpa filter, sehingga membentuk persepsi publik secara keseluruhan. Media massa perlu diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam memberitakan pesantren dan memahami kultur serta sistem pendidikan di pesantren agar tidak menciptakan kesalahpahaman publik. Sebagaimana polemik yang sudah terjadi termutakhir ini.

Masyarakat dewasa ini hidup di era dunia dalam genggaman. Di mana informasi apapun dapat tersiarkan dengan sangat cepat, serta tidak dapat dipungkiri, arus informasi bersifat melimpah dan tidak terbendung lagi.

Mengenai asas jurnalisme sebuah berita harus memenuhi kerangka 5W 1H dan seseorang yang hendak mereportase sebuah berita secara etis tidaklah dibenarkan hanya menampilkan satu aspek parsial dalam sebuah peristiwa. Maka dari itu bisa dikatakan bahwa sebuah peristiwa dapat disajikan secara objektif. Namun demikian, apabila sebuah data yang diperoleh saat mereportase telah melalui mekanisme disortir dan disesuaikan dengan sudut pandang editor, dewan redaksi, pimpinan media, dalam kasus viralnya penyiaran tayangan segmen program Xpose Unsercored di TRANS7 pada Senin, 13 Oktober 2025 yang menuai reaksi keras publik atau masyarakat terlebih keluarga besar himpunan alumni santri Pondok Pesantren Lirboyo (HIMASAL) Se-Jabodetabek berduyun-duyun menyambangi kantor media TRANS7 (Gedung Trans Media, Jalan Kapten Pierre Tendean Kav.12-14 A, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.) dalam keruwetan atas tayangan segmen program Xpose Uncersored yang tentu program tersebut berada di bawah tangan arahan dan kepemimpinan Bapak Andi Chairil, selaku Direktur Program TRANS7, dan jika terdapat atau ditemukan satu ideologi atau sebuah tendensi kepentingan tertentu misalnya, pada akhirnya muncul berita yang telah terbingkai (frame), tentu saja kompleksitas muatan tendensi terkait akan menjadi sangat runyam (ruwet).

Terkait hal itu, salah satu perwakilan dari himpunan alumni santri lirboyo (HIMASAL) menekankan,

"bahwasanya, terkait segmen salah satu program di TRANS7 " Xpose Uncersored yang menarasikan pesantren, santri dan kiai dengan kurang elok, dari tayangan penyiaran segmen program Xpose Uncersored dengan judul: “Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok,” yang disiarkan TRANS7 pada 13 Oktober 2025 yang video tayangan tersebut telah memicu aksi protes kami (HIMASAL) dan tentu dari berbagai pihak terlebih santri dan alumni pesantren yang ada di Jabodetabek khususnya, dan Indonesia umumnya,” terang, Penasihat Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) KH Rasyud Syakir di Gedung Trans Media, Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada 14/10/2025.

Oleh: Abdul Majid Ramdhani

🔗 Bagikan Artikel Ini