Santri Jongkok Versus Si Otak Jongkok

Tayang pada 13 Oktober 2025 sebuah program Xpose Uncensored dari Trans7 dengan judul yang dianggap provokatif, yakni “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” kata seseorang oknum jurnalis yang tidak bertanggung jawab di media Trans7. Potongan tayangan tersebut menuai kritik luas karena dianggap melecehkan tradisi pesantren dan merendahkan penghormatan santri kepada kiai.

Bagi saya, ya memang itu benar — santri saat minum itu jongkok. Tapi jangan lupa, ada juga yang jongkok, mohon maaf, yaitu otak si oknum jurnalis di media Trans7. Santri minum kudu jongkok, ya nggak masalah. Toh, dalam perspektif agama Islam, itu sebuah anjuran kesunnahan. Sekali lagi, yang jongkok itu otak Anda, karena dalam menyampaikan berita tidak mencerminkan etika, tidak profesional, dan cenderung menyudutkan satu pihak.

Saya sengaja menulis dengan nada sedikit keras, karena teringat dawuh Gus Baha’: “Nek ono cangkem elek, iso dibales ambek cangkem elek pisan.” (Jika ada perkataan buruk, kadang harus dibalas dengan perkataan tegas pula). Ini bukan ajakan untuk kasar, melainkan bentuk ketegasan moral agar Islam dan pesantren tidak terus diframing secara keliru.

Hal ini dibenarkan dengan adanya penelitian oleh Brendan Nyhan & Jason Reifler (2010) berjudul “When Corrections Fail: The Persistence of Political Misperceptions.” menunjukkan bahwa koreksi atau klarifikasi yang diharapkan sebagai counter untuk mengurangi mispersepsi sering kali berbuah gagal. Dalam banyak kasus, kelompok yang diberikan koreksi tetap mempertahankan kesalahan persepsi mereka terhadap fakta.

Maka, seperti halnya Sayyidina Umar RA ketika melihat Nabi Muhammad ﷺ direndahkan oleh kaum Quraisy — beliau tidak menanggapinya dengan kata manis nan puitis, tetapi dengan sikap keras demi menjaga marwah Rasulullah SAW. Dan tindakan ini selaras dengan pesan Imam Syafi’i: “التكبر على المتكبر صدقة” — Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah. Mengapa? Karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang yang congkak, maka kesombongan itu akan terus tumbuh tanpa kendali.

Saya masih berprasangka positif; bisa jadi media Trans7 dijadikan sebagai alat tunggangan kepentingan. Namun, pernyataan provokatif tersebut menjadi bukti nyata adanya mismanagement dalam proses penyiaran. Padahal, dalam teori komunikasi penyiaran Islam, jurnalis seharusnya berpegang pada empat sifat kenabian: ṣidq (jujur), amānah (dapat dipercaya), tablīgh (menyampaikan dengan benar), dan faṭānah (cerdas). Sayangnya, tayangan tersebut jauh dari nilai-nilai tersebut — tidak cerdas, tidak santun, dan tidak jujur., inilah mengapa saya menyebutnya si otak jongkok.

Saya menyebut pelaku tayangan ini sebagai “oknum Trans7”, karena saya yakin tidak seluruh SDM media Trans 7 di sana seperti itu. Sebagai tambahan, izinkan saya memberikan penyematan kepada oknum yang bersangkutan, bahwa Anda bukan bagian dari Trans7, melainkan layak disebut “Si oknum TRANS” sebuah akronim dari Terlalu Receh Ambil Narasi Sampah (TRANS). Karena bisa-bisanya membuat berita tanpa didasari ilmu — sebuah narasi berita yang tidak elegan, pernyataan yang terlalu tendensius, dan menimbulkan kegaduhan.

Dalam keadaan yang semestinya, media dengan segala kelengkapan alat kamera dan perangkat editing seharusnya digunakan untuk menyuarakan kebenaran, bukan sekadar memuaskan selera sinis melalui konten murahan. Lantas apa bedanya dengan komunis?? Ya, seperti komunis — sebab komunisme cenderung mendikotomikan nilai-nilai religius, memisahkan kehidupan spiritual dari ruang publik, serta menafsirkan segala sesuatu semata-mata melalui sudut pandang dan parameter materialistik. Coba kita mengingat kembali tragedi G30S/PKI, di mana kiai menjadi objek kekerasan, fitnah, serta pembunuhan keji.

Bukan berarti kami anti kritik. Kritik boleh saja, bahkan perlu, sebagai upaya tawashou bil haqq. Tapi harus proporsional, jujur, berlandaskan etika, dan berbasis data — bukan sekadar prasangka. kritik tanpa etika adalah penghinaan. Kritik tanpa data adalah fitnah. Dan kritik tanpa adab hanyalah bentuk arogansi yang dibungkus kebebasan pers.

Mari kita jujur, kita harus mengakui, semua para santri di pelosok negeri yakin semuanya itu tulus niat merantau jauh dari kampung halaman mereka, untuk belajar menimba ilmu. Tidak ada kepentingan tendensius apa pun selain belajar dan berkhidmah kepada ilmu dan ahli ilmu. Begitu polosnya, sampai kami pun tidak mengenal bagaimana dinamika keadaan di luar karena selalu berada di dalam pesantren. Tapi sayangnya, kepolosan dan keluguan ini nyatanya dimanfaatkan dan dijual untuk meraup rupiah dengan sebuah konten yang sampah, konten yang receh. Cara menyampaikan beritanya pun tidak memiliki kaidah tutur kata yang baku alias nyebelin. Apa benar jurnalis seperti itu?

Noam Chomsky dan Edward S. Herman pernah menulis dalam Manufacturing Consent (1988), bahwa media yang baik bukan hanya menyampaikan kabar, tetapi juga membentuk cara kita memahami dunia. Namun saat ini, kita sedang berhadapan bukan sekadar dengan narasi berita faktual, melainkan dengan konstruksi narasi yang merusak tatanan sosial. Pemberitaan saat ini lebih banyak framing yang tidak memiliki dasar faktual dan cenderung semu. Maka tidak heran, kita sedang memasuki era post-truth sebagaimana dikemukakan Ralph Keyes (The Post-Truth Era, 2004). yakni kondisi ketika fakta objektif kehilangan pengaruh dalam membentuk opini publik — digantikan oleh emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang berpotensi viral.

Di era digital, teori post truth memang menjadi semakin relevan, di mana media kerap melenceng dari perannya sebagai penyaji fakta. Media yang dahulu berperan sebagai guru bangsa dan pengawal kebenaran, kini berubah menjadi badut di panggung kapitalisme, menjual sensasi demi angka klik dan engagement. Memanen monetisasi dari khalayak yang mudah termakan kesalahpahaman, dan narasi murahan yang dikemas sebagai hiburan. Tentu persoalan ini tidak semata-mata soal Trans7, melainkan cerminan dari fenomena yang sudah jamak terjadi: praktik framing media yang kini menjamur di berbagai platform serta upaya menggiring persepsi publik secara sepihak telah menjadi pola baru dalam industri informasi.

Ironisnya, di balik engagement penonton dan viralnya tayangan, tersimpan tragedi moral dan intelektual — saat idealisme jurnalistik dikubur demi kepuasan algoritma dan selera pasar yang murahan. Mari kita berikan penghormatan terakhir untuk idealisme jurnalistik yang telah meninggal di bawah media Trans7. Kami, atas nama santri di mana tempat kami mengaji, guru, dan kiai kami telah dilecehkan, kami turut berbela sungkawa. Kami cukup berdoa, Semoga dunia media dan jurnalistik segera sadar dan tidak kehilangan arah kiblat moralnya.

Dan untuk para santri, tetaplah kita berjuang serta berjalan sesuai dengan jati diri kita — belajar, berkhidmah, dan menjaga adab sebagai warisan para kiai. Sebab di tengah derasnya arus ideologi dan perubahan zaman, timbul banyak tantangan yang akan dihadapi sehingga menunut kita untuk tetap waspada, menjaga diri dan menjaga Marwah. Sebagaimana yang dilantunkan Syekh Imam Zarnuji dalam syairnya:
تَفَقَّهُوا فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، وَاتَّقُوا رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنَ، مَا دَامَتِ الْأَرْوَاحُ فِي الْأَبْدَانِ
yakni tetaplah berbekal ilmu serta iman, bertakwa kepada Sang Rahman selama ruh masih dalam badan.

Terakhir, kami mengucapkan, Selamat Hari Santri! Kendati suasananya kini berbeda, mari kita nikmati dan syukuri, karena setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan memegang nilai-nilai keimanan, ketauhidan, keikhlasan, dan moralitas yang diajarkan oleh para kiai.

Oleh: Ahmad Sirajuddin. MMT (Dosen UIN KHAS Jember)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *